Mengangkat Keseharian Kampung dalam Sastra

Sosok Abdian Rachman pemuda kelahiran Sulawesi Tengah dua puluh enam tahun silam ini telah membuktikan kecintaan nya pada dunia sastra Indonesia. Abdian terkenal dalam karya-karya sastra buatannya yang memiliki ciri khas dengan istilah-istilah lokal, hal ini di lakukan agar bahasa lokal tidak punah, disamping itu kata-kata tersebut terasa lebih emosional, sastrawi dan simbolis. Anak ketiga dari lima bersaudara ini merasa terpanggil untuk tiggal di kampung setelah dia mendapat gelar sarjana di Universitas Tadulako jurusan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Pendidikan Keguruan. Tahun 2011 Abdian mengabdikan dirinya untuk menjadi guru honorer SMP dan SMA di Desa Meli. Dari kesehariannya inilah hal-hal kecil yang dilalui menjadi inspirasi Abdian untuk menulis. Abdian menekuni dunia tulis menulis semenjak tahun pertama nya di masa kuliah. Abdian langsung bergabung di sanggar seni Bahana milik jurusan Bahasa Indonesia FKIP UNTAD.

 

Sanggar Seni Bahana membawa Abdian kedalam lorong waktu. Dia mulai mempelajari kebiasaan, ujaran, cerita rakyat dan dongen-dongeng. Ketika pulang kampung pun Abdian aktif berkomunikasi dengan Tetua Adat. Dalam mencari inspirasi untuk menulis, pemuda ini rela mendayung sampan seorang diri ke tengah laut dibatas antara laut Palu dan selat Makassar. Laut biru dan pegunungan yang melingkari kawasan tersebut dapat membuat dia merasa tenang dan mengngat kembali episode kehidupan masyarakat. Dengan modal yang di dapat di sanggar dan informasi yang di dapat dari dialog dengan para tetua kampung telah membawa Abdian kepada sebuah momentum pada tahun 2009. Abdian bergabung dengan lembaga Pers Mahasiswa Untad. Dalam lembaga ini Abdian semakin mengasah kemampuan menulisnya dan mengikuti berbagai latihan serta tugas jurnalistik.

 

Pada tahun 2009 tekad Abdian membuahkan hasil dengan terbit nya cerpen pertama nya yang berjudul Kupu-kupu Hijau. Cerpen buatan Abdian muncul di majalah dinding kampung. Abdian pun mengirimkan cerpen buatan nya ke Medika Publishing Jakarta, 2 tahun kemudian terbitlah cerpen buatan nya dalam antologi Aku Terlahir Istimewa. Walapun tidak mendapat honor apa-apa, dia tidak berkecil hati karena Abdian tahu ini adalah batu loncatan untuknya menuju lebih jauh ke dunia sastra. Sampai sekarang cerpen karya Abdian sudah terhitung 16 judul yang telah di publikasikan. Sebanyak 12 karya telah terhimpun dalam Perempuan Dalam Sakaya ang dicetak penerbit lokal di Palu, diluar 12 judulnya itu cerpen nya tersebar dalam antologi yang terbit di daerah Jakarta dan Yogyakarta. Abdian juga kerap mengajar di sanggar seni Hati. Lewat wadah itu Adrian ingin menularkan kecintaannya menulis pada generasi-generasi tersebut.

Koran Kompas sosok edisi 26 Maret 2014, hal 16

 

Advertisements

REFLECTION OF PSYCHOLOGY IN EVERYDAY LIFE 4 : DEFENCE MECHANISM

As Humans, we are used to dealing with problems. Blaming and the blame has been a process of learning in our lives. When dealing with problems we often make a denial for self defense. I will explain what is defence mechanism with a variety of terms, how it works, and an examples of defence mechanism.

Defense mechanisms is Tactics the ego uses to reduce anxiety by unconsciously distorting reality.

Defense Mechanism

Repression : The master defense mechanism; the ego pushes unacceptable impulses out of awareness, back into the unconscious mind. Example : A young girl was sexually abused by her uncle. As an adult, she can’t remember anything about the traumatic experience.

Rationalization : The ego replaces a less acceptable motive with a more acceptable one. Example : A college student does not get into the fraternity of his choice. He tells himself that the fraternity is very exclusive and that a lot of students could not get in.

 Displacement : The ego shifts feelings toward an unacceptable object to another, more acceptable object. Example : A woman can’t take her anger out on her boss, so she goes home and takes it out on her husband.

 Sublimation : The ego replaces a less acceptable motive with a more acceptable one The ego replaces an unacceptable impulse with a socially acceptable one. Example : A man with strong sexual urges becomes an artist who paints nudes.

Projection : The ego attributes personal shortcomings, problems, and faults to others. Example : A man who has a strong desire to have an extramarital affair accuses his wife of flirting with other men.

Reaction Formation : The ego transforms an unacceptable motive into its opposite. Example : A woman who fears her sexual urges becomes a religious zealot.

 Denial : The ego refuses to acknowledge anxiety-producing realities. Example : A man won’t acknowledge that he has cancer even though a team of doctors has diagnosed his cancer.

Regression : The ego seeks the security of an earlier developmental period in the face of stress. Example : A woman returns home to mother every time she and her husband have a big argument.

Reflection of Psychology in Everyday Life 3 : Stress

Stress is when a psychological response is elicted from external stimuli. The stimuli can be both psychological or psyological. And stress can be a short term or long term. Despite the way we speak about it, stress is not simply a feeling. It can actually affect a person biological and psyological state. When we think of stress, we tend to think of its as being equivalent to worry, but strees is much more than that, and it does not always have to be bad. There is two types of stress. The first one we called it distress. Distres is a stress that occurs from negative events, example : losing job, getting hurt. The second one is Eustress. Eustress is a stress that occurs from posiive events, example : watch a scary movie, goin on roller coaster, or getting a baby. But, people have to becareful if they experienced too much stress because, high level of stress can also contribute to a disease like high blood pressure and heart disease.

Merawat ODHA di Jayapura

Image

 

Sosok Agustinus Adil OFM (50) pria yang akrab di panggil Agus ini adalah seorang perawat sukarela yang mengabdikan diri nya untuk tinggal serta merawat pasien HIV/AIDS di Rumah Surya Kasih Waena. Rumah Surya Kasih Waena yang terletak di distrik Heram Jayapura ini memiliki 12 kamar rawat dengan 170 pasien HIV/AIDS. Sebelum menjadi sebuah Rumah perawatan yang cukup besar, rumah surya kasih waena bertempat disebuah kontrakan yang hanya dapat menampung empat orang pasien. Berkembang nya Rumah rawat ini berawal dari datang nya seorang donatur wanita asal Australia bernama Juliana pada tahun 2007 silam. Juliana terharu dengan kondisi rumah rawat yang masih serba kekurangan, karena ternyata masih banyak sekali orang yang membutuhkan perawatan namun akibat terbatas nya tempat Agus tidak dapat merawat mereka. Akhirnya Juliana kembali ke Negara nya, tidak lama dari kembalinya itu Agus menerima bantuan dana sebesar dua miliar rupiah.

Keterlibatan Agus dengan pasien pengidap HIV/AIDS (ODHA) di latarbelakangi kenyataan betapa minimnya informasi tentang penyebaran penyakit yang menyerang daya tahan tubuh tersebut. Setiap bulannya, sekitar 10 pasien ODHA baru dapat ditemukan di Rumah Sakit tempat Agus bekerja. Alasan lain yang membuat Agus begitu memotivasi merawat pasien ODHA ini karena perlakuan diskriminatif yang di tunjukan oleh orang-orang sekitar maupun keluarga kepada pasien yang mengidap HIV/AIDS. Sejak saat itulah Agus engikrarkan diri untuk berusaha menghapus perlakuan diskriminasi bagi ODHA. Setiap hari nya selepas bekerja di rumah sakit Agus memberikan perawatan dan pendampingan terhadap pasien ODHA di Rumah Surya Kasih Waena. Kepedulian Agus juga berlanjut kepada para keluarga pasien. Agus menjelaskan tentang penyakit yang diderita anggota keluarga nya, dan selalu memotivasi agar para keluarga tidak bersikap paranoid terhadap penyakit HIV/AIDS dan terus memberikan kasih saying untuk anggota keluarga yang mengidap penyakit tersebut.

 

Kecintaan Agus pada profesi keperawatan muncul saat Agus mengikuti orientasi Biara Fransiskan yang terletak di Distrik Heram, Jayapura pada tahun 1991. Tahun 1993 Agus memperdalam ilmu keperawatan nya di sekolah rawat di daerah Rangkasbitung, Banten. Sepulangnya dari sekolah keperawatan, Agus berkeraa di Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura. Baru setelah enam tahun bekerja Agus memfokuskan dirinya untuk merawat pasien ODHA. Selama satu decade Agus bercerita tentang kendala nya dalam merawat pasien, ternyata pasien ODHA cenderung rewel dan menuntut banyak perhatian. Hal ini terjadi karena mereka kesepian, dan membutuhkan perhatian ekstra. Agus berusaha memberikan perawatan optimal walaupun hanya Agus dan satu rekan nya yang bekerja. Terkait biaya hidup pasien di Rumah Surya Kasih Waena pada tahun 2007, dana yang dikeluarkan perbulan berkisar 25 juta rupiah perbulan. Namun seiring berjalannya waktu upaya nya mendapatkan sorotan dari para donatur dan Pemerintah P.rovinsi Papua. Perubahan pun mulai memperlihatkan hasil yang signifikan. Sudah banyak warga dan keluarga yang tidak mendiskriminasi para ODHA dan bertambah nya pengetahuan tentang cara penularan penyakit ini. Atas upaya Agus selama ini, pada Januari 2014 Agus mendapat penghargaan Tokoh Peduli bidang kesehatan dari Gubernur Papua Lukas Enembe.

 

Koran Kompas edisi 25 Maret 2014, hal 16

 

Report ‘Metamorphosis’ Theater Show

Image

 

 

Hari Sabtu tanggal 29 Maret 2014, saya datang ke sebuah Tempat Seni di daerah Pasar Minggu yang bernama Gallery Salihara, dengan tujuan menyaksikan sebuah pertunjukan teater karena saya mendapat tugas dari Dosen kampus saya. Dalam gallery tersebut, terdapat sebuah teater yang bernama Stock Teater. Saya sampai di Gallery Salihara setengah jam sebelum pertunjukan di mulai. Pada malam itu akan berlangsung satu pertunjukan yang berjudul Metamorphosis. Sesampainya disana jujur saya langsung menyukai atmosfer Gallery itu. Bangunannya begitu nyaman dan bersahaja. Banyak sekali segerombol orang dengan penampilan ciri khas seorang seniman yang berlalu lalang. Membuat tempat itu terlihat cukup sibuk. Saya pun segera pergi ke loket  untuk membeli tiket pertunjukan yang akan saya saksikan. Terdapat dua kategori untuk masing masing tiketnya, bila anda seorang pelajar, anda akan mendapat harga tiket khusus seorang pelajar seharga Rp. 35.000 dan harga tiket untuk umum seharga Rp. 75.000. Sayangnya saya datang tidak terlalu awal, sehingga saya tidak kedapatan harga tiket khusus pelajar. Acara pertunjukan di mulai jam 8 malam, selagi menunggu saya duduk di kafe yang terdapat di dalam gallery Salihara sambil menikmati segelas teh tarik yang saya pesan. Tidak lama ada suara gong berbunyi yang menandakan bahwa pertunjukan akan di mulai. Sayapun langsung menuju ke arah Stock Teater. Sesampainya di dalam saya langsung mengamati sekitar. Ruangan kedap suara bertembok hitam, terdapat kurang lebih 250 bangku yang berderet keatas. Saya mendapati tempat duduk yang strategis untuk menyaksikan pertunjukan. Pertunjukan di mulai sedikit ‘molor’ dari jam yang seharusnya. Sekitar 15 menit saya menunggu di dalam teater. Sampai akhirnya lampu di matikan dan tirai di buka.

Pada awal mulai cerita terdapat sepasang suami istri yang memiliki dua anak. Dengan latar belakang kemiskinan dan tempat tinggal yang kumuh. Si anak laki-laki yang bernama Gregor adalah anak paling kecil di keluarga ini. Gregor adalah seorang anak yang begitu pantang menyerah untuk bekerja. Di dalam cerita ini Gregor adalah satu-satu nya tulang punggung keluarga, dari pagi sampai malam ia membanting tulang untuk menghidupi keluarga nya dikarenakan bapak nya Gregor adalah seorang pengangguran yang sangat malas, dia tidak mau bekerja mencari uang. Aktifitas yang bapak nya lakukan di rumah hanya menonton tv, makan, tidur, dan mabuk-mabukan. Ibu nya Gregor adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak begitu pintar namun sosok yang penyabar. Lalu kakak perempuan nya yang juga hanya berdiam diri di rumah karena tidak mampu melanjutkan kuliah musik impiannya. Gregor sendiri bekerja di salah satu pabrik lokal yang memproduksi sepatu bermerek palsu. Gregor sebagai seorang salesman menjajakan sepatu palsu dagang annya di jalan, dari rumah kerumah. Hati kecil Gregor sebenarnya merasa dosa karena dia menjual dan menipu para pembeli dengan kebohongan. Tapi mau tidak mau Gregor tetap melakukannya, karena pada saat itu hanya pekerjaan itu yang bisa dilakukannya. Bagaimanapun ia harus tetap berjualan karena dia bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup dirinya dan keluarga nya. Pada suata malam selepas ia bekerja dia pergi tidur ke kamarnya, dan keesokan hari nya disaat ia bangun, hal yang hampir sangat mustahil menimpanya. Gregor menemukan diri nya berubah menjadi seekor serangga raksasa. Di mulai dari situ cobaan demi cobaan datang melanda keluarga nya terus. Anggota keluarga nya menemukan Gregor dengan kondisi bahwa ia telah berubah menjadi serangga raksasa. Keluarga nya begitu ketakutan dan kaget melihat ada seekor serangga raksasa di dalam rumah nya. Bapak, Ibu, dan kakak perempuanya berlarian de sekeliling rumah sampai akhirnya Ibu nya pingsan dan Bapaknya sendiri melempari Gregor dengan alat-alat rumah tangga. Mereka tidak mengetahui bahwa hewan itu adalah anakya sendiri. Namun meskipun dengan wujud sebuah hewan, pemikiran Gregor tetap menjadi pemikiran seorang manusia. Hanya saja Gregor terjebak di dalam wujud serangga.  Di mulai dari situlah berbagai kontradiksi di tampilkan, Keraguan Gregor akan pertolongan Tuhan, perpecahan dan pertengkaran yang setiap hari menghiasi suasana rumahnya, kelaparan, pemikiran-pemikiran baru tentang nilai hidup, dan jiwa Gregor yang terasa telah mati. Bapak nya begitu membenci Gregor, hanya Ibu dan kakak perempuannya yang sedikit memiliki rasa kasihan terhadap nya. Sampai akhirnya hidup Gregor berakhir di tangan kakak perempuannya dengan dukungan Bapak nya sendiri. Selama pertunjukan berlangsung tidak hanya terdapat unsur akting, namun terdapat pertunjukan instrumen musik langsung yang di mainkan oleh salah satu anggota pemain yang berlaku juga sebagai narator.

Menurut sutradara nya sendiri ( Totos Rasiti) judul Metamorphosis ini ibarat peralihan karya sastra menjadi karya teater. Metamorphosis adalah judul inggris untuk novela Van Verwandlung karya Frans Kafka yang terbit pada tahun 1915. Novela ini menjadi salah satu fiksi terbaik yang ada pada abad ke 20. Kafka sang pengarang pun sebenarnya tidak berfokus kepada perubahan mengapa tokoh utama menjadi seorang serangga. Kafka hanya berfokus kepada sisi psikologis yang di alami Gregor yang tersiksa akibat Metamorphosis ini.

Menurut saya, begitu banyak nilai moral yang dapat di ambil dari kisah Metamorphosis ini. Bahwa di dalam setiap pilihan manusia akan selalu ada kontroversi pada diri. Dengan mengamati aksi para pemain dan pesan yang di sampaikan, saya menilai bahwa jiwa yang telah mati di dalam fisik yang hidup akan sangat berdampak buruk pada kehidupan. Kaerna hidup adalah pilihan, orang yang ditakdirkan dengan hidup yang miskin bila mereka memiliki kekayaan hati dan terbuka pada dunia serta tidak pernah berhenti menyerah pasti akan mendapatkan apa yang mereka layak dapatkan. Sebagai manusia kita harus berperang melawan ego kita sendiri melawan fikiran dan perasaan yang buruk yan terdapat di dalam diri kita masing-masing.  Tidak hanya disitu setiap manusia harus benar-benar memahami apa hak dan kewajiban mereka. Agar tercipta nya suatu harmoni yang akan membuat jalan hidup menjadi lebih baik.

 

Secara keseluruhan menurut saya pertunjukan teater dengan kisah Metamorphosis ini sangat bagus, karya yang di bungkus dengan cerita yang begitu kompleks. Semua makna tersampaikan dengan baik, sindiran sindiran tentang kehidupan begitu mengena di hati para penikmat show, di lengkapi dengan aksi lucu dan totalitas dari pemain. Karya teater Metamorphosis menjadi sesuatu yang segar, dan bermakna. Melihat antusiasme para peminat seni teater di kalangan masyarakat, saya rasa masih kurang banyak peminat nya. Para penonton mayoritas masih dari kalangan seniman itu sendiri. Mungkin dengan mengedukasikan seni teater ke masyarakat yang lebih luas akan menjadi sebuah gebrakan untuk kemajuan dunia seni teater Tanah air kita. Karena menyaksikan pertunjukan teater sebenarnya adalah hal yang sangat menyenangkan untuk di coba.

Tentang Stock Teater sendiri Teater ini didirakan olej Totos Rasiti, Aibey S Huda, Norman R, Akyuwen, dan Epy Kusnandar pada tahun 1997. Mereka adalah mahasiswa/alumni Jurusan Seni Teater IKJ. Dengan menghasilkan pemanggungan yang berbeda. Kelompok Teater ini mengusung tema-tema perkotaan atau urban sebagai bahan cerita dan konsep pementasan nya.

Aside

Reflection of Psychology in everyday life 2 : Human Gestures and Expressions

Did you know?

every human being has a natural gesture in the face while they expresses a certain condition. We have discovered some facial expressions that we use for everyday life, such as happy, angry, sad, surprised, disgusted. Facial expressions are vital to social communication between humans. Humans can experience a certain facial expression deliberately, but generally suffered facial expressions by accident due to the human feelings or emotions. Usually it is difficult to hide certain feelings or emotions of the face, although many people who feel so wanted to do it. For example, people who try to hide their feelings of hate towards someone, at some point would accidentally show the feelings in their face, although they tried to show a neutral expression.

 

Aside

Reflection of Psychology in everyday life 1 : Reverse Psychology

Have you heard about reverse psychology before? Well, reverse psychology is a technique involving the advocacy of a belief or behavior that is opposite to the one desired, with the expectation that this approach will encourage the subject of the persuasion to do what actually is desired. The opposite of what is suggested. This technique relies on the psychological phenomenon of reactance, in which a person has a negative emotional reaction to being persuaded, and thus chooses the option which is being advocated against.

Pendekar Silat Betawi

Image

 

Haji Sanusi (83) seorang sosok pendekar silat keturunan Betawi asal Sawah Besar yang akrab di panggil Babe Uci ini telah berlatih silat semenjak umur nya 12 tahun. Sampai saat ini, orang-orang tidak akan mengira bahwa umur nya sudah 83 tahun. Sungguh kekuatan fisik yang cukup luar biasa untuk seorang kakek-kakek. Babe Uci mengaku tidak memiliki pantangan apapun dalam hal makanan, dia juga tidak memiliki penyakit serius. Semua itu diperoleh dari ke displinannya semenjak dia kecil. Masa muda yang di alami di Pesantren mengajarkan dia untuk makan apa adanya. Babe Uci pun mengaku ia hanya makan sehari sekali, setiap jam 2 siang bila dia mulai lapar. Babe Uci memperoleh sikap disiplin ini dari perguruan silat nya, bahwa hanya anak anak pintar, rajin shalat, dan mengaji yang dapat mengikuti pelatihan silat. Babe Uci menjelaskan, karena yang ingin benar-benar belajar silat harus pandai meredam keinginan berkelahi yang sering muncul akibat belajar bela diri, karena bisa silat bukan untuk pamer. Di setiap kampung memiliki aliran silat yang berbeda, hal ini di ketahui karena Babe Uci sering diajak berkeliling dengan pelatihnya. Guna berkeliling untuk belajar gerakan lain, dan juga bersilahturahmi antara sesama pesilat. Di Jakarta terdapat sekitar 300 aliran silat, dan Babe Uci telah menguasi tujuh aliran.

Karir mengajar perdana nya di lakukan di pesantren saat Babe Uci berumur 17 tahun, berawal dari ke prihatinan nya melihat banyak teman yang bengong di kala senggang karena tidak ada kegiatan lagi yang harus di laksanakan. Sampai akhirnya disaat lulus dari pesantren yang dia tinggali selama 10 tahun, pada tahun 1957 Babe Uci mendirikan perguruan silat pertama nya di Jakarta yang bernama Pusaka Djakarta beraliran silat gerak cepat. Dengan tujuan untuk mengembangkan dan melestarikan silat Betawi. Tidak berheti sampai dsitu ternyata nama Babe Uci semakin di kenal di daerah kota, sampai-sampai Babe Uci mendapat tawaran pertama nya untuk menjadi seorang koreografer silat dalam film silat Djampang Mentjari Naga Hitam. “Film yang laris meledak di masa itu, sampai membuat pintu teater runtuh karena penggemar terus berdatangan”. Ujar Uci.

Semenjak tawaran menjadi koreografer dalam film pertama Babe Uci, tawara lain semakin berdatangan. Hingga saat ini Babe Uci sudah terlibat dalam pembuatan 28 film nasional. Walaupun sudah berkecimpung puluhan tahun dalam dunia silat dan pembuatan film, Babe Uci tetaplah pribadi yang rendah hati dan sederhana, dia tetap belajar silat dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Dan satu harapan Babe Uci, dalam naskah film terakhir yang sedang dia rilis, untuk dapat di tayangkan. Karena ini merupakan kisah silat dari berbagai wilayah di Indonesia.

 

KOMPAS 14 MARET 2014 page 16

Group 1 : Summary Religion (Introduction, Animism, Mana & Taboo)

 

(Introduction)

Antropolog Anthony FC Wallace mendefinisikan agama sebagai keyakinan dan ritual berkaitan dengan makhluk gaib, kekuasaan, dan kekuatan.

Supranatural adalah alam yang berada di luar alam biasa, yang hanya dapat di terima dengan kepercayaan. Terdiri atas Tuhan, Dewa, Malaikat, Roh, Hantu. Hal hal yang merupakan materi diluar dunia.

(Animisme)

Pendiri antropologi agama adalah orang Inggris Sir Edward Burnet. Tylor percaya bahwa nenek moyang kita dan masyarakat nonindustrial kontemporer secara khusus tertarik dengan kematian , bermimpi , dan trance.

Tylor menyimpulkan bahwa upaya untuk menjelaskan mimpi dan trans menyebabkan manusia purba untuk percaya bahwa dua entitas menghuni tubuh satu yang aktif pada siang hari dan yang lain negara ganda atau jiwa aktif selama tidur dan trance . Meskipun mereka tidak pernah bertemu , mereka sangat penting satu sama lain . Ketika kedua elemen secara permanen meninggalkan tubuh , orang tersebut akan meninggal . Kematian adalah keberangkatan jiwa . Dari bahasa Latin untuk jiwa , Anima. Tylor memberi nama untuk keyakinan ini yang disebut Animism.

Jiwa adalah salah satu jenis entitas spiritual. Untuk Tylor , animisme  adalah bentuk paling awal dari agama, yaitu keyakinan makhluk spiritual .

Tylor mengusulkan bahwa agama berkembang melalui tahapan , dimulai dengan animisme lalu Politeisme ( kepercayaan dalam beberapa dewa ) dan kemudian monoteisme ( keyakinan dalam satu , dewa mahakuasa ).

(Mana & Taboo)

Mana : Kekuatan suci impersonal, dinamakan demikian di Melanesia dan Polinesia. Taboo : Suci dan dilarang; larangan didukung oleh sanksi supranatural.

Polinesia dan konsep Melanesia dari mana dikontraskan.

-Mana Melanesia didefinisikan sebagai kekuatan impersonal suci yang jauh seperti konsep Barat keberuntungan (Contoh, sebuah jimat milik seorang yang dapat menularkan mana kepada orang berikutnya yang di inginkan)

-Mana Polinesia dan konsep terkait tabu terkait dengan sifat yang lebih hierarkis masyarakat Polinesia.

Mana dapat bersifat positive dan negative.

Seumur Hidup Diponegoro

Image

 

Peter Brian Ramsey Carey. Pria 65 tahun kelahiran Yangon, Myanmar ini telah mengabdikan setengah hidup nya untuk meneliti salah satu pahlawan bangsa kita, Pangeran Diponegoro. Sudah 40 tahun carey meneliti tentang Pangeran Diponegoro yang menurutnya adalah pahlawan nasional yang paling utama. Carey beranggapan, masyarakat Indonesia hidup dalam kekosongan historiografi, masyarakat lebih akrab dengan budaya Barat di bandingkan warisan budaya sendiri yang unik. Sejauh ini Carey telah menulis buku biografi yang berjudulTakdir : Riwayat Pangeran Diponegoro yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 2012. Buku ini merupakan bentuk ringkas dari karya aslinya yang terdiri dari tiga jilid setebal 1,146 halaman yang berjudul Kuasa Ramalan : Pangeran Diponegoro dan Akkhir Tatanan Lama di Jawa. Versi ringkas yang belum lama terbit ini juga muncul dalam bahasa inggris dengan judul The LIfe of Prince Diponegoro of Yogyakarta. 

Carey lahir di dalam lingkungan keluarga misionaris Irlandia yang mengabdikan diri di Asia. Saat dia berumur tujuh tahun, Carey pergi ke Inggris untuk menyelesaikan pendidikan formalnya, setamat nya di Oxford, Carey melanjutkan studi nya di Cornell University, New York. Pergi ke Amerika dengan tujuan menyusun disertasi. Lalu rencana nya itu buyar saat Carey menemui tiga guru besarnya di Cornell, ketiga guru nya adalah pakar kajian Indonesia. Mereka menyarankan Carey untuk mempelajari bahasa-bahasa di Asia Tenggara dan melihat berbagai persitiwa sejarah era kolonial dari sudut pandang bumi putra. Disini lah awal mula ‘perkenalan’ Carey dengan Pangeran Diponegoro. Suatu kali, dalam kelas bahasa belanda, Carey mendapat tugas membaca Geschiedenis van Indonesie, bab perang Jawa. Carey terpaku pada salah satu ilustrasi di halamannya, disitulah dia melihat sosok Diponegoro untuk pertama kalinya. Dan dimulai dari situ, Carey telah membulatkan tekad nya melakukan penelitian tentang Diponegoro dan perang Jawa. Tahun 1970 dia melakukan perjalanan ke indonesia menggunakan kapal laut, perjalanan ini hampir merenggut nyawanya.

Sesampai nya di tanah Yogyakarta dia tinggal selama 18 bulan di sebuah losmen tengah kota. Dalam perjalanan dari pelabuhan, Carey menaiki kereta semalaman untuk menuju losmen tersebut. Dalam perjalanan inilah Carey bertemu seorang pria Inggris. Malam hari nya pria itu mengajak Carey untuk menyaksikan pertunjukan wayang orang di sisi barat kota. Dalam acara itu Carey mengakui melihat sosok bayangan yang menyerupai Pangeran Diponegoro. Ternyata daerah tempat pentas itu berlangsung bernama Tegalrejo, daerah yang telah dibumihanguskan Belanda dalam perang Jawa. Semenjak penampakan sosok Pangeran Diponegoro 43 tahun yang lalu, Carey merasa ditakdirkan untuk terus berjuang lewat berbagai karya demi memantapkan keagungan Diponegoro. 

Koran Kompas edisi 7 Maret 2014, pages 16.